CERMIN
Andai kita bercermin, apa mungkin kita bisa menjadi sosok pribadi orang lain ?
Translate
Jumat, 16 November 2012
VIRUS
Koruptor, sepertinya sudah menjadi profesi baru di Negeri ini. Peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh, lebih besar daripada “resiko” yang harus dihadapi. Buktinya walaupun KPK gencar dan berhasil membongkar banyak kasusnya, namun Koruptor seakan tak pernah habis, terus dan terus ada menggerogoti uang rakyat. Mereka seakan bangga dengan predikat seorang Koruptor. Sangat membosankan dan menyebalkan. Mungkin sebaiknya kata Koruptor harus diganti dengan, “ Perampok atau maling “ saja., dan tempatkan mereka dalam sel bersama tahanan umum lainnya.
Profesi baru ini harus segera dihapus dan diberantas, karena sudah menjadi penyakit yag sangat berbahaya. Tapi, mampukah KPK menanganinya ?. Jelas tidak mugkin berjuang sendirian, harus ada kerjasama dari seluruh “rakyat” Indonesia.
Korupsi, ibarat virus atau bakteri yang sangat mematikan. Penyebarannya bisa sangat pelan dan lama, tapi bisa juga langsung menjggerogoti pasiennya . Proses terjangkitnya, karena peluang dan kesempatan terbuka lebar dari sistim yang longgar. Ingat, sekuat apapun imunisasi yang ada pada diri kita, akan tetap terjangkit virus ini, dan tidak menutup kemungkinan menjadi seorang Koruptor.
Dilingkungan terkecil kita, masih ada transaksi klasik yang disebut saling membutuhkan dan menguntungkan. Merogoh uang kecil agar jasa dan barang dapat dengan mudah diperoleh, walau diluar aturan yang sudah ditetapkan. Bisa dilakukan oleh orang yang membutuhkan jasa atau barang, bisa juga sebaliknya. Inilah virus yang penyebarannya pelan dan lama, namun bila hal ini terus dilakukan, tidak mustahil virus ini akan menjadi sangat berbahaya, saat peluang dan kesempatan yang lebih besar di lingkungan yang lebih luas.
Disnilah tugas kita bersama untuk menyusun rencana, merumuskan dan menerapkannya . KPK tidak mungkin bekerja sendirian, harus didukung dan dibantu seluruh rakyat , baik yang duduk di instansi pemerintah paling atas sampai bawah, instansi swasta, aparat penegak hukum dan ahli hukum, wakil rakyat dan yang mewakilkannya, dan seluruh rakyat lainnya yang mewakili profesinya masing masing.
Pencegahan lebih awal dilingkungan terkecil harus terus diawasi, agar virus korupsi dapat dibasmi, jangan hanya dengan penerangan saja tapi dengan tindakan Pemberantasan virus yang sudah akut, harus terus dilakukan seperti sekarang ini, rehabilitasi mereka ditempat yang tepat, dimana virus ini bisa benar benar mati.
Kita mungkin berhayal, suatu saat negeri kita bebas dari virus korupsi, tapi hayalan itu akan jadi kenyataan, apabila semua bersatu mendukung dan membatu program KPK.
Kamis, 24 November 2011
Kematian adalah Sebuah Misteri
Siapa pun manusia di dunia ini, baik ulama, cendikiawan, dokter, psikolog, para normal atau apapun statusnya tidak akan tahu kapan hari, jam, dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogative Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.
Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain. Misalnya saat ini banyak orang melakukan siaga bencana, siaga perang, siaga banjir dan siaga-siaga lainnya tapi luput programnya dari siaga kematian. Padahal kematian adalah sebuah misteri, ia akan merenggut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Bukan hanya orang tua, tetapi anak muda, remaja bahkan bayi sekalipun dapat meninggal tanpa diprediksi. Kematian juga tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat, karena terbukti orang yang sehat, segar dan bugar juga bisa mengalami mati mendadak.
Kematian juga tidak selalu dialami seseorang secara sendirian, karena bila Allah SWT menghendaki kematian bisa dialami oleh sebuah komunitas, atau suatu bangsa di suatu daerah , atau suatu wilayah atau suatu negara dalam jumlah yang sangat menakjubkan. Contoh peristiwa gempa bumi di Padang Sumatera Barat atau Tsunami di Aceh dan yang terakhir di Jepang.
Sebagai seorang muslim kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela agama Allah SWT, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina saat ini dalam melawan Israel yang mengambil tanah mereka, menguasai masjid Al Aqsa dan berbagai hak hidup mereka. Namun karena kematian sebuah misteri tidak semua mereka yang berjuang mendapat karunia syahadah seperti yang di harapkan.
Ada juga yang mengharapkan kematian setelah melakukan ibadah seperti setelah selesai sholat, setelah berbuka puasa atau setelah selesai melaksanakan ibadah haji, atau ibadah-ibadah lainnya. Banyak harapan mereka yang dikabulkan Allah SWT. Rita seorang aktivis dakwah di kota Tangerang teman saya menceritakan bahwa pada bulan Ramadhan tahun 2009 seorang bapak bernama Ahmad ikut shalat tarawih. Setelah selesai shalat dan sedang berdzikir, ia terjatuh dan kemudian meninggal dunia. Cerita lain tentang seorang ibu yang baru selesai berbuka kemudian terjatuh dan segera dilarikan ke rumah sakit. Tak lama kemudian ia meninggal di rumah sakit.
Ada lagi peristiwa yang sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah , sehingga dibaringkan dan di gotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo. Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki-laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk ibu Hartati-nama ibu itu- di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.
Senyum Mujahidah Dunia, Putri Surga
Setelah pesawat take-off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing-masing petugas duduk kembali ke kursi masing-masing. Penulis mencoba melihat ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk. Terpikir oleh penulis tidak mungkin selama 9 jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat jenazah ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik. Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan. Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda pak Emir Sattar bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.
Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah SWT, yang tidak bisa di duga oleh siapa pun. Ia adalah لا يستاءخرون ساعة ولايستقدمون Tidak bisa ditunda sedikit pun atau di percepat. Wallahu a’lam bish shawwab.
Madinah Al-Munawwarah, 23 April 2011
Ustadzah Yoyoh Yusroh
Untuk para hamba yang memiliki pemahaman seperti ini, ia akan selalu siaga untuk menghadapi hari kematiannya dengan berbagai amal yang diridhai Allah SWT. Siaga menghadapi kematian melebihi kesiagaan dalam hal lain. Misalnya saat ini banyak orang melakukan siaga bencana, siaga perang, siaga banjir dan siaga-siaga lainnya tapi luput programnya dari siaga kematian. Padahal kematian adalah sebuah misteri, ia akan merenggut siapa saja di dunia ini dengan tidak mengenal usia. Bukan hanya orang tua, tetapi anak muda, remaja bahkan bayi sekalipun dapat meninggal tanpa diprediksi. Kematian juga tidak mengenal apakah orang itu sakit atau sehat, karena terbukti orang yang sehat, segar dan bugar juga bisa mengalami mati mendadak.
Kematian juga tidak selalu dialami seseorang secara sendirian, karena bila Allah SWT menghendaki kematian bisa dialami oleh sebuah komunitas, atau suatu bangsa di suatu daerah , atau suatu wilayah atau suatu negara dalam jumlah yang sangat menakjubkan. Contoh peristiwa gempa bumi di Padang Sumatera Barat atau Tsunami di Aceh dan yang terakhir di Jepang.
Sebagai seorang muslim kematian yang didambakan adalah mati syahid dalam membela agama Allah SWT, mempertahankan hak seperti yang dilakukan oleh saudara kita yang ada di Palestina saat ini dalam melawan Israel yang mengambil tanah mereka, menguasai masjid Al Aqsa dan berbagai hak hidup mereka. Namun karena kematian sebuah misteri tidak semua mereka yang berjuang mendapat karunia syahadah seperti yang di harapkan.
Ada juga yang mengharapkan kematian setelah melakukan ibadah seperti setelah selesai sholat, setelah berbuka puasa atau setelah selesai melaksanakan ibadah haji, atau ibadah-ibadah lainnya. Banyak harapan mereka yang dikabulkan Allah SWT. Rita seorang aktivis dakwah di kota Tangerang teman saya menceritakan bahwa pada bulan Ramadhan tahun 2009 seorang bapak bernama Ahmad ikut shalat tarawih. Setelah selesai shalat dan sedang berdzikir, ia terjatuh dan kemudian meninggal dunia. Cerita lain tentang seorang ibu yang baru selesai berbuka kemudian terjatuh dan segera dilarikan ke rumah sakit. Tak lama kemudian ia meninggal di rumah sakit.
Ada lagi peristiwa yang sangat memilukan. Seorang ibu yang baru selesai menunaikan ibadah haji meninggal di pesawat GA 981. Ketika ia menaiki tangga, pas di anak tangga yang terakhir dekat pintu ia terjatuh dalam posisi duduk. Kebetulan penulis duduk di dekat pintu sehingga terlihat jelas bagaimana ia terjatuh dan dibantu suaminya untuk duduk. Ia terlihat sangat lemah , sehingga dibaringkan dan di gotong oleh teman-temannya sesama jamaah haji dari Solo. Saat digotong dan lewat di hadapan penulis, penulis berdiri dan sempat memegang kakinya yang terasa sangat dingin. Kemudian pramugari melalui pengeras suara menanyakan siapa penumpang yang dokter. Ia mohon bantuannya untuk menolong pasien yang sedang sakit. Ternyata ada dua dokter laki-laki dan perempuan yang siap menolong, kemudian agak ramai mereka mondar mandir karena posisi duduk ibu Hartati-nama ibu itu- di kelas ekonomi agak rumit untuk mendapat bantuan. Akhirnya kebijakan crew pesawat ibu Hartati dipindahkan ke kelas bisnis untuk memudahkan pengurusannya.
Senyum Mujahidah Dunia, Putri Surga
Setelah pesawat take-off beberapa menit dan suasana agak tenang, masing-masing petugas duduk kembali ke kursi masing-masing. Penulis mencoba melihat ibu Hartati di tempatnya, ternyata beliau tidur mendengkur di sebelah suaminya. Tidak lama kemudian terlihat suasana yang agak ribut. Ternyata ibu Hartati sudah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk. Terpikir oleh penulis tidak mungkin selama 9 jam mayat bisa bertahan duduk di kursi. Akhirnya setelah musyawarah dengan crew pesawat jenazah ibu Hartati diletakkan di belakang barisan kursi bisnis terakhir dengan beralaskan plastik. Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk memberi masukan kepada pihak penerbangan. Ketika rapat kerja bulan Mei 2010 dengan pengelola maskapai Garuda di komisi VIII yang membincang masalah biaya penerbangan haji, penulis sampaikan kepada Dirut Garuda pak Emir Sattar bahwa penerbangan harus selalu mempersiapkan KIT untuk jenazah berupa kantong mayat, karena sangat mungkin dalam penerbangan jauh atau dekat ada seseorang yang tiba ajalnya. Saat itu beliau mengaminkan, dan mudah-mudahan sekarang sudah direalisasikan.
Itulah kematian yang merupakan hak penuh Allah SWT, yang tidak bisa di duga oleh siapa pun. Ia adalah لا يستاءخرون ساعة ولايستقدمون Tidak bisa ditunda sedikit pun atau di percepat. Wallahu a’lam bish shawwab.
Madinah Al-Munawwarah, 23 April 2011
Ustadzah Yoyoh Yusroh
Rabu, 16 November 2011
WAKTU
Capek...lelah, kata kata yang sering terucap setelah selesai menjalankan aktivitas sehari hari. Dari pagi sampai sore bahkan malam, seabreg aktivitas tentu sangat melelahkan sehabat semua, sampai rumahpun kadang masih ada pekerjaan yang menunggu. Istirahat...tidur hanya itu ingin dilakukan, apalagi kalau hati ikut bicara, "istirahatlah, jaga stamina buat esok hari ".
Kita memang dianjurkan untuk mencari rejeki sebanyak banyaknya, karena dengan harta yang kita miliki, kita bisa berbagi dengan saudara saudara kita yang membutuhkan, bukankah sebagian rejeki yang kita miliki ada bagian orang lain yang harus kita sisihkan ?. Kita bukanlah robot, yang terus menerus mengumpulkan harta sebagai koleksi. Kita adalah hamba Allah, yang harus pandai mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan yaitu nikmat rejeki yang kita dapatkan. Sodaqoh, zakat, infak yang kita keluarkan adalah bukti tanda syukur yang bisa kita lakukan.
Sahabat... ada yang terlupakan ketika semua persoalan duniawi membelenggu. Kita lalai dengan diri kita sendiri, lupa siapa kita sebenarnya. Kita lalai, sering mengabaikan waktu dan kesehatan. Sehat adalah modal utama kita yang sangat berharga. Kalau kita sakit, mana mungkin kita bisa beraktivitas.
Kita sering menghabiskan waktu dengan teman teman sekerja, dengan pekerjaan dan rutinitas lainnya, tapi kita masih sering melupakan, keluarga butuh kita untuk bersama, tetangga butuh kita untuk silaturahmi, majelis taklim butuh kita untuk duduk bersama menuntut ilmu di mesjid, umat butuh kita untuk berbagi. Ada satu hal lagi yang sering kita lupakan, apakah kita tidak butuh waktu bersama Allah ?, yang telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia ini. Mari kita jawab dihati kita masing masing.
Sahabat...semoga catatan kecil ini bisa menjadi cambuk buat kita. Kejarlah duniamu, seakan kamu akan hidup selamanya, kejarlah ahiratmu seakan kamu akan mati besok..........
Kita memang dianjurkan untuk mencari rejeki sebanyak banyaknya, karena dengan harta yang kita miliki, kita bisa berbagi dengan saudara saudara kita yang membutuhkan, bukankah sebagian rejeki yang kita miliki ada bagian orang lain yang harus kita sisihkan ?. Kita bukanlah robot, yang terus menerus mengumpulkan harta sebagai koleksi. Kita adalah hamba Allah, yang harus pandai mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan yaitu nikmat rejeki yang kita dapatkan. Sodaqoh, zakat, infak yang kita keluarkan adalah bukti tanda syukur yang bisa kita lakukan.
Sahabat... ada yang terlupakan ketika semua persoalan duniawi membelenggu. Kita lalai dengan diri kita sendiri, lupa siapa kita sebenarnya. Kita lalai, sering mengabaikan waktu dan kesehatan. Sehat adalah modal utama kita yang sangat berharga. Kalau kita sakit, mana mungkin kita bisa beraktivitas.
Kita sering menghabiskan waktu dengan teman teman sekerja, dengan pekerjaan dan rutinitas lainnya, tapi kita masih sering melupakan, keluarga butuh kita untuk bersama, tetangga butuh kita untuk silaturahmi, majelis taklim butuh kita untuk duduk bersama menuntut ilmu di mesjid, umat butuh kita untuk berbagi. Ada satu hal lagi yang sering kita lupakan, apakah kita tidak butuh waktu bersama Allah ?, yang telah memberikan kita kesempatan hidup di dunia ini. Mari kita jawab dihati kita masing masing.
Sahabat...semoga catatan kecil ini bisa menjadi cambuk buat kita. Kejarlah duniamu, seakan kamu akan hidup selamanya, kejarlah ahiratmu seakan kamu akan mati besok..........
SAAT SAAT DI KAMPUS.
Aku menerima secarik kertas dari seseorang yang aku sendiri tidak tahu siapa dia. kubuka lalu kubaca berulang ulang, " kak, bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk berdakwah dengan cara yang baik dan lemah lembut, bukan dengan bentakan apalagi kekerasan ?". Kupejamkan mata, tak terasa batinku menangis, kenapa ini bisa terjadi ?.
Terlintas dibenaku, kejadian itu, acara PKMB di kampus STIE Kerjasama Yogyakarta tempat aku menimba ilmu, tahunnya aku lupa. Saat itu, aku bersama teman teman LKI Jama'ah Muslim STIEKER,yang tergabung dalam Kerohanian islam Panitia PKMB akan mengadakan kajian untuk pengkaderan. " Cepat...cepat...cepat, kenapa kalian lelet, ayo cepat acaranya mau dimulai...!", bentakan dan teriakan Sie Mentalitas bagai petir menyambar para MABAIS ( Mahasiswa Baru Islam )untuk segera masuk ke ruangan kerohanian Islam. Suasana sangat riuh dan gaduh, akibat teriakan dan kepanikan para Mabais. Setelah acara selesai, secarik kertas itulah yang kuterima dari seorang mahasiswi.
Tulisan itu masih membekas disanubariku, menjadi cambuk untuk terus belajar mencontoh panutan kita Rasulullah dalam menyampaikan syiar Islam. Buat ukhti yang dulu memberikan secarik kertas itu, jazakumullah khoeron katsiron, teruslah menyebarkan amar ma'ruf nahi munkar. Untuk sahabat sahabatku yang dulu pernah aktif dikampus dan masih aktif berdakwah, semoga Allah mempererat tali ukuwah diantara kita, jalan terjal masih panjang................
Terlintas dibenaku, kejadian itu, acara PKMB di kampus STIE Kerjasama Yogyakarta tempat aku menimba ilmu, tahunnya aku lupa. Saat itu, aku bersama teman teman LKI Jama'ah Muslim STIEKER,yang tergabung dalam Kerohanian islam Panitia PKMB akan mengadakan kajian untuk pengkaderan. " Cepat...cepat...cepat, kenapa kalian lelet, ayo cepat acaranya mau dimulai...!", bentakan dan teriakan Sie Mentalitas bagai petir menyambar para MABAIS ( Mahasiswa Baru Islam )untuk segera masuk ke ruangan kerohanian Islam. Suasana sangat riuh dan gaduh, akibat teriakan dan kepanikan para Mabais. Setelah acara selesai, secarik kertas itulah yang kuterima dari seorang mahasiswi.
Tulisan itu masih membekas disanubariku, menjadi cambuk untuk terus belajar mencontoh panutan kita Rasulullah dalam menyampaikan syiar Islam. Buat ukhti yang dulu memberikan secarik kertas itu, jazakumullah khoeron katsiron, teruslah menyebarkan amar ma'ruf nahi munkar. Untuk sahabat sahabatku yang dulu pernah aktif dikampus dan masih aktif berdakwah, semoga Allah mempererat tali ukuwah diantara kita, jalan terjal masih panjang................
Sabtu, 12 November 2011
Rabu, 02 November 2011
IBU
Hari ini aku merasa bahagia bercampur haru. Setelah beberapa tahun tidak bertemu, ahirnya aku bisa disampingmu, walau berada tepat didepanku, namun engkau sangat jauh dan tak mungkin aku bisa memeluk dan mencium tanganmu. Hanya dengan keimananlah suatu saat aku bisa bertemu kembali denganmu.
Aku terduduk didepan pusaramu, kuusap batu nisanmu, kuberseihkan dari daun dan ranting. Tidak terasa air mata mengalir membasahi kedua pipi. Ibu...hanya do'a yang bisa kusampaikan, semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahanmu, menerima semua kebajikanmu dan menempatkanmu ditempat yang mulia disisi Allah ( syurga ), aamiin. Maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan secuil kebahagiaan selama engkau masih hidup.
Terasa berat untuk meninggalkan pusara ibu, ingin rasanya selalu berada disampingnya, namun aku syadar hal itu tidak mungkin aku lakukan. Ada harapan besar yang bisa aku lakukan saat ini dan seterusnya, berusaha membekali diri dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT, agar aku bisa menjadi orang yang soleh. Bukankah do'a anak yang soleh, salah satu bekal oprang tua di alam keabadian nanti ?. Semoga do'a kami semua anak anakmu diterima oleh Allah sebagai do'anya anak anak yang soleh, aamiin.
Semasa hidup, aku mengenalmu sebagai ibu yang pendiam,tidak pernah marah sekalipun walau aku berbuat nakal. Rasa sayangmu tidak akan pernah bisa terbalaskan olehku. Ketika aku sekolah di jogja, do'amu tak pernah berhenti untuk mendo'akanku agar berhasil. Aku teringat saat liburan, pulang ke karawang, engkau selalu menyiapkan makanan kesukaanku, ikan asin sama sambal goreng terasi. Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan dari sosok seorang ibu yang penuh kesabaran dan ketabahan. Kenangan itu telah terbingkai dalam hati sanubari yang paling dalam.
Saat saat terahir engkau berada di rumah sakit, alhamdulillah aku dan saudara saudaraku hadir disampingmu, melihat dan menyaksikan bagaimana engkau dengan tenang menghadap Illahi. Innalillahi wa innailaihi roji'un, hanya itulah ucapan kami untuk mengiringi langkahmu menuju peristirahatanmu terahir.
Kita semua milik Allah, dan akan kembali kepadaNya. Semoga engkau beristirahat dengan tenang diiringi do'a dari kami semua.

Aku terduduk didepan pusaramu, kuusap batu nisanmu, kuberseihkan dari daun dan ranting. Tidak terasa air mata mengalir membasahi kedua pipi. Ibu...hanya do'a yang bisa kusampaikan, semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahanmu, menerima semua kebajikanmu dan menempatkanmu ditempat yang mulia disisi Allah ( syurga ), aamiin. Maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan secuil kebahagiaan selama engkau masih hidup.
Terasa berat untuk meninggalkan pusara ibu, ingin rasanya selalu berada disampingnya, namun aku syadar hal itu tidak mungkin aku lakukan. Ada harapan besar yang bisa aku lakukan saat ini dan seterusnya, berusaha membekali diri dengan iman dan taqwa kepada Allah SWT, agar aku bisa menjadi orang yang soleh. Bukankah do'a anak yang soleh, salah satu bekal oprang tua di alam keabadian nanti ?. Semoga do'a kami semua anak anakmu diterima oleh Allah sebagai do'anya anak anak yang soleh, aamiin.
Semasa hidup, aku mengenalmu sebagai ibu yang pendiam,tidak pernah marah sekalipun walau aku berbuat nakal. Rasa sayangmu tidak akan pernah bisa terbalaskan olehku. Ketika aku sekolah di jogja, do'amu tak pernah berhenti untuk mendo'akanku agar berhasil. Aku teringat saat liburan, pulang ke karawang, engkau selalu menyiapkan makanan kesukaanku, ikan asin sama sambal goreng terasi. Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan dari sosok seorang ibu yang penuh kesabaran dan ketabahan. Kenangan itu telah terbingkai dalam hati sanubari yang paling dalam.
Saat saat terahir engkau berada di rumah sakit, alhamdulillah aku dan saudara saudaraku hadir disampingmu, melihat dan menyaksikan bagaimana engkau dengan tenang menghadap Illahi. Innalillahi wa innailaihi roji'un, hanya itulah ucapan kami untuk mengiringi langkahmu menuju peristirahatanmu terahir.
Kita semua milik Allah, dan akan kembali kepadaNya. Semoga engkau beristirahat dengan tenang diiringi do'a dari kami semua.
Selasa, 01 November 2011
Aku bukan seorang penulis
Dalam kesendirian,
jiwaku terasa hampa.
Denyut nadi berdetak pelan,
dan aliran darah mulai tersendat.
Hatipun sudah mulai membeku,
diselimuti rasa rindu.
Entah kenapa ini terjadi...?
saat biduk mulai berlabuh,
mengarungi gelombang cinta.
menggapai ridhoMu
Ya Robbi......
Ini hanyalah catatan kecil bukan puisi, aku tidak bisa membuat syair, karena aku bukanlah seorang penulis. Catatan ini kubuat dipenghujung malam, suasana hening dan dingin merasuki pori pori kulit.
Diatas sajadah
aku berdiri, merunduk, sujud,
dihadapanMu.
Kulepaskan genggaman dunia,
hanya mengharap
kasih dan cinta-Mu
yang abadi.
Malam itu aku merasakan ada hal baru, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Begitu dekat dengan Sang Pencipta. Aku bisa lepas berdialog denganNya, memohon ampunan atas semua dosa yang telah aku lakukan.
Ya Robbi....
ampuni semua dosa yang telah hamba lakukan,
tak pernah mendengar seruan dan laranganMu,
hamba kotor berlumur dosa
bergumul dengan urusan dunia.
Ya Robbi...
tanpa ampunan dariMu
hamba akan menjadi manusia yang merugi.
Aku begitu leluasa menyampaikan semua permasalahan kehidupan yang sedang aku alami,
Ya Allah
inilah jalan dariMu
yang harus hamba lalui
dengan kepasrahan kepadaMu.
Engkau tidak akan membebani hamba
dengan beban yang tidak mungkin
hamba sanggup memikulnya
hamba yakin suatu saat
raih kebahagiaan
dariMu
Selama ini aku sering mengeluh dengan keadaanku, permasalahan ekonomi sering menghantui pikiran, permasalahan aqidah yang terus menggerogoti hati, semuanya menjadi beban dalam jiwa. Salah langkah sering aku jalani, sampai ahirnya aku menemukan suatu titik jenuh yang sangat kuat dalam diri.
Malam itu benar benar malam yang sangat aku rindukan. Aku ingin bertemu setiap malam, dalam dekapanMu ya Allah......
Ya Allah
dekaplah hamba
jangan pernah Kau lepaskan lagi
biarlah hati hamba
selalu tertaut dengan hatiMu
aku rindu
belaian dan kasih sayang Mu
yang kunantikan setiap saat
lindungi hamba dan keluarga hamba
dengan pagar keimanan
bimbing hamba
selalu dijalanMu.
Sebetulnya aku ingin menulis peristiwa ini dengan tulisan yang baik dan enak dibaca, sekali lagi karena aku bukan seorang penulis, ahirnya hanya sebuah catatan kecil ini yang tertuang.
Ada hikmah yang tergali, betapa nikmat bisa bertemu dengan Allah saat kita hanya berdua, saat gelap menyelimuti, dan dingin merasuk, apalagi saat orang orang lebih asyik terlelap dengan mimpinya,
Langganan:
Komentar (Atom)